Saturday, January 26, 2008

Cisitu Lewat Jalan Lain ke Terminal

“Jangan lupa, kunci sama STNK dititipin ke warung Bu Oden ya,” kata Yanu sebelum dia meninggalkan villa. Pagi ini Yanu harus balik ke Jakarta, jadi saya diminta untuk mengembalikan motornya ke kosannya yang berada di belakang warung Bu Oden.

Sore ini saya juga harus balik ke Jakarta, tapi Yanu meminta saya menggantikan tugasnya siang ini untuk menjaga villa di Dago Pakar. Selagi saya bisa, kenapa tidak. Karena saya yakin kalau saya membantu orang, suatu saat saya membutuhkan bantuan orang pasti dimudahkan jalannya.

Sudah pukul setengah tiga sore, saya segera bersiap menyusuri jalan dari Dago Pakar ke kosan Yanu di Cisitu Indah VI. Dan perjalanan lebih dari setengah jam berhasil membawa saya ke depan kosan Yanu. Begitu saya buka pintu pagarnya, terlihat ada teman kosan Yanu yang sedang jongkok di depan kamarnya. Tampangnya memang sedikit horor sih. Kemudian saya berpikir untuk menitipkan kunci motor dan STNK ke dia saja. Akhirnya saya kumpulkan segenap keberanian untuk menyapanya.

Tak disangka, tampang horor tapi ramah. Jadi, jangan menilai orang dari kopernya aja. Don’t judge a book by its cover.

Perjalanan masih belum selesai, karena saya masih harus ke terminal Cisitu. Tadi Yanu sempat bilang, “Lewat aja yang ada tulisan gang terminal, nanti ada kuburan, terus ketemu kandang kambing, abis itu ikutin jalan aja.” Begitu saya menyusuri gang terminal, saya merasa kalau jalan ini aneh. Bagaimana tidak, baru beberapa langkah saya masuk ke gang ini, tiba-tiba di sisi kiri saya ada nenek-nenek yang duduk jegang sambil ngerokok, dan terus memperhatikan saya. Saya segera mempercepat jalan dan kemudian bertemu kuburan. Di tengah-tengah kuburan, ada orang sedang berkerumun. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka sedang mengantri mau potong rambut. Wah, sekarang tampaknya sedang ngetrend potong rambut di kuburan.

Di ujung kuburan saya disambut dengan suara-suara berisik dari kandang kambing. Saya terus saja menyusuri jalan ini sampai terlihat persimpangan dan tampaknya Yanu tidak bilang belok kanan atau belok kiri. Saya harus segera memutuskan belok kanan atau kiri karena di persimpangan ada banyak ibu-ibu yang sedang asik bergosip, mungkin sedang membahas perceraian Yessi Gusman. Begitu saya tiba di persimpangan, para ibu yang sedang bergosip langsung melihat saya yang sedang bingung. Saya yang merasa tidak nyaman langsung memutuskan untuk belok kanan, karena biasanya kanan lebih baik daripada kiri.

Saya yang tidak tahu jalan memutuskan untuk bertanya pada bapak-bapak yang terlihat di ujung jalan. Ya ampun, si bapak bawa kapak. “Pak, kalo mau ke terminal kemana ya?” tanya saya. Si bapak cuma menengok terus menunjuk ke arah balik. Wah, saya salah jalan. Dan kali ini saya harus melewati ibu-ibu gosip itu lagi. Begitu saya lewat, ibu-ibu di situ silih berganti menyapa, “Mau ke mana a’?” Saya cuma senyum lalu jalan cepat. Dan sampailah di terminal Cisitu.

Saya naik angkot dan supir langsung tancap gas. Sambil menikmati udara di angkot, tiba-tiba saya melihat teman saya pakai daster sedang menutup pintu pagar. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan hamba-Nya yang cantik. Masih terngiang bayangan si cewek pakai daster, kemudian saya melihat di ujung jalan ada dua anjing berbulu coklat. Yang satu memegang punggung yang lain, terus dikeluarin ‘pentungannya’, dan langsung coitus. Ya ampun, bokep!

Akhirnya, saya sampai juga di kosan. Begitu masuk ke kamar, ritual yang biasa saya lakukan adalah berdiri di depan cermin sambil mereview kejadian hari ini.
Astaga, resleting saya kebuka!

2 comments:

batari saraswati said...

hahahaha. aneh ih ceritanya. tapi lucu.

Zulfi Rahardian said...

memang perjalanan yg aneh.