Saturday, June 13, 2009
KP Telah Tiba
Di hari pertama masuk kerja, saya berangkat pukul 06.00 dari rumah saya di Bekasi karena jam kerja akan dimulai tepat pukul 07.30. Dari Bekasi ke Sudirman biasanya memakan waktu 30-45 menit. Tapi hal ini tidak berlaku di hari Senin! Dan saya baru ingat kalau ini adalah hari Senin. It was so terrible! It took almost 2 hours to get there. I was late on my first day.
Begitu saya masuk kantor yang berada di lantai 4, ternyata seluruh pegawai baru saja selesai melaksanakan doa pagi. Saya bersama Andry diminta menghadap si bapak Kepala Bagian untuk menetapkan di bagian mana kami akan ditempatkan. Akhirnya saya ditempatkan di Brand Communication Management (BCM) sedangkan Andry di Marketing Public Relation (MPR). Jangan tanya apa itu, karena saya juga belum tahu hahaha.
Kemudian saya diminta mengisi salah satu meja kosong di bagian depan, sementara Andry harus rela ditempatkan di meja pojok belakang. Baru sebentar saya duduk, tiba-tiba si bapak Kepala Bagian sudah memanggil seluruh staf BCM untuk meeting di ruang rapat, tak terkecuali saya. Wow! Baru masuk kerja udah langsung ikut meeting. Saya mulai bersemangat. Andry iri tidak diajak meeting hehe.
Dua jam meeting seru juga. Di awal meeting saya diperkenalkan dengan seluruh staf BCM. Ada mas Fbi, mas Argo, mbak Wima, mbak Novi, dan mas Satria. Kemudian satu persatu project marketing untuk setiap brand dibahas. Pembahasan mulai dari strategi pemasaran untuk single-brand, persiapan media komunikasi, kerjasama dengan para agency advertising, membuat media plan, sampai dengan persiapan konsep event yang akan diadakan. Di sini juga sempat dibahas masalah internal dan tentu saja gosip haha.
Selesai meeting, saya diminta menemani mbak Novi untuk paging di radio BRI untuk salah satu layanan sms banking. Kemudian saya kembali ke meja, dan tak tahu harus melakukan apa. Online sebentar, lalu mas Febi datang dan minta bantuan untuk pembuatan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) dengan beberapa merchant. Mau tahu cara pembuatan SPK? Tinggal ganti nama perusahaan dan nama merchant trus ganti nominal harga kesepakatan. Astaga, benar-benar tidak penting!
Akhirnya, waktu istirahat tiba juga. Saya terpaksa makan sendirian di kantor karena Andry ternyata sedang dinas luar untuk meninjau event di PRJ dan SMA 34 Jakarta. Can you guess what i did after lunch? I did nothing, totally!
P.S. KP is boring
Wednesday, March 11, 2009
Tes 1 2 3
Kemarin baru dikasih tau teman kalau ternyata bisa blog post pakai Microsoft Word 2007.
Hahaha ;p
Saturday, February 23, 2008
Sedikit Basa-Basi Untuk MTI
Sore itu saya masih di sekitar gedung TI sampai sepenggal suara memanggil, “Zul, lo disuruh ke himpunan, mau ditanyain soal Anggota Biasa soalnya lo ngisi formulir penilaian anggota muda-nya ngasal.” Beberapa waktu yang lalu saya memang diminta untuk mengisi formulir penilaian anggota muda oleh divisi kaderisasi.
Pengembangan SDM di MTI memang melalui proses berjenjang, Anggota Muda – Anggota Biasa – Anggota Luar Biasa. Pada tahun-tahun sebelumnya penilaian Anggota Muda menjadi Anggota Biasa biasanya dilakukan oleh Divisi Kaderisasi yang merekapitulasi berbagai parameter penilaian. Namun entah dapat ide dari mana, tahun ini penilaian dilakukan oleh masing-masing anggota. Maka tidak salah apabila dalam beberapa parameter penilaian, saya menilai diri saya dengan nilai A. Namanya juga menilai diri sendiri, terserah saya dong.
Oke, kembali ke cerita. Saya segera ke himpunan dan ternyata di
Saya bertanya balik, “Emangnya apa sih bedanya anggota muda sama anggota biasa?”
Paku menjawab dengan jawaban standar ala MTI yang intinya anggota biasa itu punya hak pilih dan wajib datang Rapat Anggota. Dan dia menambahkan, “MTI butuh kader-kader anggota biasa.”
Kemudian sekali lagi Paku bertanya ke Fariz apakah dia mau menjadi anggota biasa, dan langsung dibalas dengan jawaban Fariz, “ya udah, emang mau gimana lagi.”
Sekarang giliran saya yang ditanya. Saya tidak ingin langsung menjawab iya, tapi ingin sedikit berbasa-basi (seperti
“Kalau BP sendiri berharap 2006 banyak yang jadi anggota biasa,” jawab Paku. Kemudian saya mengulang ucapannya Paku, “Berarti BP mengharapkan kami…” Bagian terakhir sengaja saya gantungkan agar dijawab Paku.
“…jadi anggota biasa,” kata Paku melanjutkan.
“Oke kalau begitu, karena BP mengharapkan kami untuk jadi anggota biasa, maka saya bersedia jadi anggota biasa,” kata saya dengan nada berasa penting.
Fariz yang mendengar jawaban saya langsung membalas dengan tatapan yang bernada, “Apaan sih?!” Hahahaha…
Friday, February 15, 2008
Anti Plastic Bag Campaign
Pekan lalu, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB menyelenggarakan sebuah rangkaian acara bertajuk Anti Plastic Bag Campaign. Sebuah acara yang bisa dibilang besar karena mampu menarik animo masyarakat kampus ITB dan sekitarnya. Dalam poster, baligo, spanduk, maupun leaflet-nya, mereka menghimbau agar menghentikan penggunaan tas plastik karena limbahnya yang tidak bisa diuraikan oleh lingkungan.
Saya sempat datang ke salah satu acaranya yang diadakan di boulevard kampus ITB. Dalam acara tersebut, ditampilkan berbagai hiburan, salah satunya menghadirkan d’cinnamons, kemudian ditampilkan 1000 puisi tentang lingkungan, ada pula penjualan tas non-plastik yang merupakan hasil desain mereka.
Di sela-sela acara, salah seorang teman saya berkomentar, “Idenya sih bagus, tapi sia-sia deh.” Loh, kenapa sia-sia? Saya bingung. “Mereka di sini gampang bisa ngomong anti plastic bag, tapi tetep aja aplikasinya susah. Mereka gak ngasih solusi konkrit. Emak-emak di pasar tetep aja bakal pake tas plastik. Iya
Tapi setidaknya kampanye itu mulai mengingatkan saya untuk mengurangi penggunaan plastik sebisa mungkin. Sekarang hampir setiap kali jajan atau belanja, biasanya saya bilang, “Bang gak usah pake plastik.” Ya kalau mau melakukan perubahan mulailah dari diri sendiri, pikir saya.
Suatu sore, saya pernah beli beberapa botol minuman di kaki lima, kali ini botolnya plastik. Saya mencoba untuk tidak pakai tas plastik, tapi ternyata repot untuk memegang botol-botol itu. Akhirnya, saya terpaksa minta kantong plastik ke si penjual. Kemudian si penjual bilang, “Ini namanya bio bag loh.”
“Loh, kenapa bio bag?” tanya saya.
“Soalnya plastik ini 20% bahannya dari singkong jadi bisa diuraikan. Tapi masih perlu 2-3 tahun untuk menguraikannya,” kata si penjual.
“Dapat dari mana Bang?” tanya saya.
“Dari Anti Plastic Bag Campaign yang waktu itu,” jawab si penjual. “Dari U-Green,” tambahnya. U-Green merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di ITB yang fokus sebagai pemerhati lingkungan.
Selama beberapa saat saya hanya terdiam melihat tas plastik yang berwarna hijau kelabu itu.
Tuesday, February 5, 2008
Laserasi
Seperti langit yang kecewa pada waktu. Karena setiap detik tak lagi singgah untuk sekedar menegur hari. Mungkin dia tak lagi peduli kalau hari ini hujan begitu deras.
Seperti nafas yang lelah dengan aroma udara. Untuk sekedar menghirup kisah lama yang enggan dijumpai lagi. Padahal setiap nafas punya kisah lalu.
Seperti ufuk yang tak lagi percaya pada mentari untuk sekedar terbit. Karena kemarin hanya menyisakan malam yang sulit menjadi pagi.
Monday, January 28, 2008
Rajin Menjamah
"Eh dia pegang nenen aku. Kamu nggak boleh gitu!" kata Dewi Persik sesaat setelah ada tangan nakal yang menyentuh payudaranya. Sontak mantan istri Saipul Jamil ini pun kaget dan melayangkan bogem mentah kepada si pelaku. Buk!
Tentunya anda sudah dengar berita ini
Penyanyi dangdut yang satu ini memang tak henti-hentinya bikin sensasi. Dewi Persik memang sering kali terlihat berpakaian minim di setiap penampilannya. Selain itu, sikapnya yang terkesan liar dan mengumbar sensualitas tak jarang mengundang nafsu para lelaki nakal. Kabarnya, ini sudah kedua kalinya ia mendapat perlakuan semacam ini. Lihat fotonya disini.
Melihat kejadian ini, saya jadi teringat dengan salah satu novel karya Fira Basuki yang berjudul Ms. B: Panggil Aku B. Di salah satu babnya, ia menggambarkan sifat orang
Buat Mbak Dewi, kalo berpakaian mbok yaa jangan kebuka di mana-mana.
Buat pelakunya, besok lagi kalo mau megang ijin dulu ya.
Friday, January 25, 2008
Cisitu Lewat Jalan Lain ke Terminal
Sore ini saya juga harus balik ke Jakarta, tapi Yanu meminta saya menggantikan tugasnya siang ini untuk menjaga villa di Dago Pakar. Selagi saya bisa, kenapa tidak. Karena saya yakin kalau saya membantu orang, suatu saat saya membutuhkan bantuan orang pasti dimudahkan jalannya.
Sudah pukul setengah tiga sore, saya segera bersiap menyusuri jalan dari Dago Pakar ke kosan Yanu di Cisitu Indah VI. Dan perjalanan lebih dari setengah jam berhasil membawa saya ke depan kosan Yanu. Begitu saya buka pintu pagarnya, terlihat ada teman kosan Yanu yang sedang jongkok di depan kamarnya. Tampangnya memang sedikit horor sih. Kemudian saya berpikir untuk menitipkan kunci motor dan STNK ke dia saja. Akhirnya saya kumpulkan segenap keberanian untuk menyapanya.
Tak disangka, tampang horor tapi ramah. Jadi, jangan menilai orang dari kopernya aja. Don’t judge a book by its cover.
Perjalanan masih belum selesai, karena saya masih harus ke terminal Cisitu. Tadi Yanu sempat bilang, “Lewat aja yang ada tulisan gang terminal, nanti ada kuburan, terus ketemu kandang kambing, abis itu ikutin jalan aja.” Begitu saya menyusuri gang terminal, saya merasa kalau jalan ini aneh. Bagaimana tidak, baru beberapa langkah saya masuk ke gang ini, tiba-tiba di sisi kiri saya ada nenek-nenek yang duduk jegang sambil ngerokok, dan terus memperhatikan saya. Saya segera mempercepat jalan dan kemudian bertemu kuburan. Di tengah-tengah kuburan, ada orang sedang berkerumun. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka sedang mengantri mau potong rambut. Wah, sekarang tampaknya sedang ngetrend potong rambut di kuburan.
Di ujung kuburan saya disambut dengan suara-suara berisik dari kandang kambing. Saya terus saja menyusuri jalan ini sampai terlihat persimpangan dan tampaknya Yanu tidak bilang belok kanan atau belok kiri. Saya harus segera memutuskan belok kanan atau kiri karena di persimpangan ada banyak ibu-ibu yang sedang asik bergosip, mungkin sedang membahas perceraian Yessi Gusman. Begitu saya tiba di persimpangan, para ibu yang sedang bergosip langsung melihat saya yang sedang bingung. Saya yang merasa tidak nyaman langsung memutuskan untuk belok kanan, karena biasanya kanan lebih baik daripada kiri.
Saya yang tidak tahu jalan memutuskan untuk bertanya pada bapak-bapak yang terlihat di ujung jalan. Ya ampun, si bapak bawa kapak. “Pak, kalo mau ke terminal kemana ya?” tanya saya. Si bapak cuma menengok terus menunjuk ke arah balik. Wah, saya salah jalan. Dan kali ini saya harus melewati ibu-ibu gosip itu lagi. Begitu saya lewat, ibu-ibu di situ silih berganti menyapa, “Mau ke mana a’?” Saya cuma senyum lalu jalan cepat. Dan sampailah di terminal Cisitu.
Saya naik angkot dan supir langsung tancap gas. Sambil menikmati udara di angkot, tiba-tiba saya melihat teman saya pakai daster sedang menutup pintu pagar. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan hamba-Nya yang cantik. Masih terngiang bayangan si cewek pakai daster, kemudian saya melihat di ujung jalan ada dua anjing berbulu coklat. Yang satu memegang punggung yang lain, terus dikeluarin ‘pentungannya’, dan langsung coitus. Ya ampun, bokep!
Akhirnya, saya sampai juga di kosan. Begitu masuk ke kamar, ritual yang biasa saya lakukan adalah berdiri di depan cermin sambil mereview kejadian hari ini.
Astaga, resleting saya kebuka!